![]() |
| Ilustrasi - Warga kota sedang berolah raga di sebuah ruang publik. (Foto: Fixabay) |
Tulisan ini mendeskripsikan demarkasi ekologi berbasis etnik, yang pernah menjadi ciri struktur pemukiman penduduk dan situasi ekologi khas di Makassar. Masuknya kaum kolonial Belanda di kota ini, semakin menyempurnakan bentuk segragasi etnik tersebur serta membawa perubahan fundamental terhadap wajah kota oleh pengaruh dominasi politiknya.
Konstruksi ruang juga muncul dalam nuansa arsitektural bangunan, yang sengaja disetting serupa dengan kondisi kota Zaman Pertengahan di Eropa oleh rekayasa teknologi ala kolonial pada Abad Ke-17. Tahap berikutnya, dinamika kota dengan segala perubahan yang ditimbulkan, lalu merubah karakteristik dan bahkan merombak struktur pemukiman penduduk berlabel etnik tersebut.
Akhirnya, lokalitas buatan seperti kompleks perumahan muncul sebagai efek pengkomoditasan ruang. Kondisi ini mencipta tipe masyarakat yang hanya dekat secara fisik namun berjauhan secara psikis. Dengan demikian, gejala renggangnya ikatan sosial oleh kebijakan ruang kota adalah pertanda matinya komunitas urban.
.png)

.png)